Tuesday, September 20, 2011

Tren Batik

Batik sedang jadi tren. Di mana-mana bisa ditemukan orang pakai batik. Tak hanya untuk acara resmi atau pernikahan, batik juga di pakai untuk pergi jalan-jalan, ke mall sampai dipakai bekerja.
Tren batik membuat variasi model baju batik pun menjadi sangat beragam. Dari model daster, kemeja formal, sack dress, rok, hingga baju you can see bermotif batik pun dapat dengan mudah ditemui saat ini. Warna dan bahan tak kalah bervariasi. Sedangkan harga umumnya mengikuti bahan dan model produk batik itu sendiri.
Produk Batik pun kini tak hanya terbatas pada baju, kemeja ataupun produk garmen lainnya. Beragam produk dihasilkan menggunakan motif batik. Misalnya seperti topi, tas, sandal, cover buku agenda, gelang, bahkan plester.
Plester?
Ketemu plester dari batik ini sebenarnya tak sengaja, gara-gara kaki 'beset-beset' sehabis snorkeling saat mau ke Teluk Kiluan, Lampung. Untungnya salah satu teman trip saya bawa plester, yang kebetulan bermotif batik. Malah baru tahu kalau ada plester batik :) 
Lucu ya plesternya, sayang susah dicari di pasaran..
Yang namanya tren memang bisa naik turun. Ada saatnya produk yang menjadi tren itu di atas, bahkan hingga sampai puncak, namun tak sedikit pula yang kemudian turun. Inovasi terhadap produk-produk batik yang dihasilkan, disamping harga yang kompetitif dan terjangkau, bisa menjadi faktor untuk memperlama keberlangsungan tren batik.
Agar batik bisa dipakai di segala suasana, tak hanya dalam acara resmi namun juga kegiatan informal. Tak cuma dipakai dalam bentuk produk garmen, namun bisa juga dipakai sebagai aksesoris, atau bahkan plester :D

Saturday, June 25, 2011

Pesona Batik Papua

Ada satu hal menarik saat penutupan Pekan Nasional (PENAS) KTNA XIII di Tenggarong – Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur pada Kamis, 23 Juni 2011 kemarin. Sebagian besar peserta yang datang dari Sabang hingga Merauke mengenakan baju batik dengan motif yang beragam, sesuai dengan wilayah asal masing-masing kelompok peserta.
Tak terkecuali rombongan peserta Perwakilan dari Papua, yang turut mengenakan batik pada penutupan Penas tersebut. Perwakilan Papua saat itu mengenakan batik berwarna dasar merah hati dengan motif burung Cendrawasih yang merupakan fauna khas Papua. Meski hanya selintas berpapasan dengan kontingen Papua, namun sekilas, batik Papua terlihat memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan batik yang biasa kita kenal selama ini.
Penasaran karena baru pertama kali melihat Batik Papua, saya mencoba browsing di internet untuk mengetahui ragam hias batik Papua. Batik Papua muncul pertama kali pada tahun 1985, saat Pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari The United Nations Development Programme (UNDP), untuk pemberdayaan kebudayaan di daerah Indonesia bagian Timur.
Patung dan ukiran khas suku-suku di Papua yang sejatinya merupakan refleksi dari kepercayaan mereka terhadap leluhur, kini, menjadi motif batik khas Papua. Ciri khasnya terletak pada gambar orang atau hewan, yang juga ditemui pada patung tradisional mereka. Hewan yang sering muncul antara lain cicak, kadal dan buaya. Ada juga corak batik Papua lainnya yang diambil dari kekayaan budaya Papua lainnya, seperti alat musik Tifa.

Gambar diambil dari blog timikaunique
Melihat gambar-gambar batik Papua di internet, sepertiya batik Papua tidak terbatas oleh warna terang atau gelap. Ada batik berwarna gelap, namun banyak juga motif berwarna terang.
Tak berbeda dari daerah penghasil batik lainnya yang memiliki sentra produksi, Papua juga mempunyai sentra batiknya sendiri yaitu Jayapura, yang merupakan ibukota Propinsi Papua Barat.
Nah, Anda tertarik dengan batik Papua? Kini, beberapa akun di jejaring sosial seperti facebook dan twitter mulai gencar mempromosikan keindahan batik Papua ini, sehingga peminat batik Papua tak perlu jauh-jauh datang ke Jayapura jika ingin membeli batik Papua.
Doain ya kapan-kapan saya bisa beli batik Papua langsung di Papua sana :).

Friday, June 24, 2011

Batik Kaltim

Sebagai salah satu kekayaan Nusantara, batik, meski sentra produksi masih terpusat di Pulau Jawa, bukan berarti batik tidak dapat ditemui di tempat lain selain Jawa. Setiap daerah memiliki keunikan motif dan warna batik yang saling berbeda-beda. Misalnya, batik Kalimantan Timur.
Kalimantan Timur atau Kaltim, seperti halnya Kalimantan Selatan, juga memiliki motif batik yang khas dan unik. Jika Kalimantan Selatan terkenal dengan kain batik Sasirangan, batik khas Kaltim juga memiliki motif yang membedakannya dengan batik hasil produksi daerah lain.
Sentra perbelanjaan batik Kaltim cukup mudah ditemui, antara lain kawasan perbelanjaan Citraniaga di Samarinda dan Pasar Kebun Sayur di Balikpapan. Beragam batik Kaltim tersedia di dua sentra batik itu, dengan warna, bahan, motif, dan juga harga yang berbeda-beda.
Ramai dan ngejreng.
Sekilas, itulah gambaran tentang motif batik Kaltim. Batik Kaltim umumnya memiliki kombinasi warna yang cukup mencolok dipadu dengan motif yang lumayan penuh. Namun justru disinilah daya pikatnya yang membuat Batik Kaltim mudah dikenali.

Batik koleksi sendiri
Dalam selembar kain batik Kaltim, misalnya, bisa muncul beberapa warna yang kontras khususnya antara warna dasar kain dengan motif, yang tidak akan ditemui pada kain batik dari daerah lain. Motif yang tertuang pada kain batik Kaltim biasanya juga menggambarkan budaya masyarakatnya, beberapa diantaranya khas kebudayaan suku Dayak seperti bunga-bungaan tipis, tameng, rumah, dan perahu. Suku Dayak Bahau yang tinggal di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur merupakan salah satu penghasil batik tulis di wilayah Kaltim.
Menurut cerita salah seorang penjaga toko di kawasan Citraniaga, motif batik Kaltim sendiri sebenarnya dapat dibedakan sesuai dengan asal wilayahnya, seperti batik Balikpapan, batik Dayak, dll. Sayangnya masih belum banyak orang yang bisa membedakan motif batik Dayak dengan batik Balikpapan dan wilayah lainnya di Kalimantan Timur.
Batik Kaltim merupakan salah satu souvenir menarik khas Kaltim yang dapat Anda peroleh dengan harga mulai Rp 20 ribu per meter hingga ratusan ribu.
Bagaimana, berani tampil dengan warna-warna terang nan memikat?

Tuesday, May 3, 2011

Apa Itu Sasirangan?

Saat sedang berjalan-jalan di Pasar Kebun Sayur, Balikpapan beberapa waktu lalu, saya tergelitik untuk mampir ke sebuah toko atau los batik yang ada di salah satu sudut Pasar. Bukan batik khas Kalimantan Timur seperti toko-toko lainnya, melainkan batik yang sekilas sangat mirip dengan motif batik Jumputan.

Dari luar toko, terlihat sebuah papan tergantung bertuliskan: ‘Batik Sasirangan’.

Apa itu batik Sasirangan?

Kain Sasirangan merupakan kain adat Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Kain ini awal mulanya dipakai untuk upacara adat dan alat penyembuhan berbagai macam penyakit. Pemakaian kain batik Sasirangan pada waktu itu diantaranya digunakan untuk ikat Kepala atau ‘laung’, selendang, ‘bebat’ (lilitan), 'kekambang' (kerudung), ataupun ‘tapih bumin’ (kain sarung). 

Nah, yang membuat kain Sasirangan memiliki kemiripan dengan kain Batik Jumputan dari Jawa adalah dari teknik pembuatannya. Pembuatan batik Sasirangan tidak memerlukan peralatan khusus. Sesuai dengan namanya yang berasal dari kata ‘menyirang’ atau menjelujur, kain Sasirangan dibuat dengan teknik tusuk jelujur. Kain ini kemudian diikat menggunakan benang, tali rafia, karet, atau sejenisnya mengikuti corak-corak tertentu. Tahap selanjutnya kain dicelup ke dalam air hangat yang telah diberi pewarna.

Setelah ikatan dilepas, maka akan timbul motif-motif natural yang umumnya berbentuk titik-titik dalam ukuran besar. Corak ini diperoleh dari teknik ikatan yang menyebabkan tempat-tempat tertentu tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna.

Ikatan inilah yang dalam batik Jawa disebut dengan Jumputan. Proses pembuatan batik Sasirangan, seperti halnya batik Jumputan, semuanya dikerjakan dengan tangan, atau dengan kata lain dibuat secara manual. Itulah sebabnya keunikan corak dan warna dalam batik jenis ini juga sangat dipengaruhi oleh keterampilan para pembatiknya.



Batik koleksi pribadi (atas) dan koleksi seorang teman (bawah) J


Batik Sasirangan pada umumnya memiliki pola salur-salur memanjang, dengan beragam corak dan warna yang terang. Penggunaan kain Sasirangan terbagi menjadi beberapa macam, ada motif Sasirangan yang diperuntukkan bagi kaum pria atau wanita saja, namun ada pula motif yang dapat digunakan baik oleh pria maupun wanita.

Setidaknya ada belasan macam motif batik Sasirangan yang populer digunakan masyarakat, antara lain Kambang Tampuk Manggis, Ombak Sinapur Karang, Turun Dayang, Kulit Kurikit, Bayam Raja, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, dan Sari Gading. Motif-motif Sasirangan tersebut saat ini telah diakui pemerintah melalui Dirjen HAKI Dephumkam sebagai upaya untuk melindungi budaya Banjar.

Harga kain Sasirangan bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu per meter sesuai dengan corak, warna dan bahan kain yang digunakan. Ada kain dari bahan katun, mori, polyester hingga sutera.

Tergoda dengan kain khas Provinsi Kalimantan Selatan ini, sebuah kotak berisi kain Sasirangan telah berada di tangan saya, satu kain hasil pilihan dari beragam corak dan warna yang semuanya menarik J.

Thursday, April 28, 2011

Cantiknya Rereng Pelangi

Di akhir Desember 2010 lalu, saya pernah menulis tentang sebuah motif batik cantik yang membuat saya kepincut sejak pandangan pertama. Berkombinasikan warna-warna cerah, kain yang saya lihat di facebook ini sangatlah eye catching.

Terlanjur jatuh hati, saya tetap menghubungi online shop yang memajang gambar batik ini meski caption foto menunjukkan jika kain telah terjual. Saat online shop tersebut membalas message saya dan menginformasikan jika mereka bersedia menerima pesanan pembuatan kain batik tulis tersebut, no need to think twice, I already ordered the batik that made me deeply fall in love at that time.
Awalnya saya mengira jika batik tersebut bermotif Parang, meski tidak terlalu yakin karena motif Parang umumnya didominasi warna-warna gelap atau soga, sementara kain ini berwarna cerah bahkan cenderung ngejreng.
Ternyata, kain batik ini bermotif ‘Rereng’, salah satu motif khas dari beberapa daerah di Tatar Sunda seperti Garut dan Tasikmalaya. Informasi tentang corak batik saya peroleh dari pemilik online shop yang berasal dari Tasikmalaya. Sang owner shop juga menjelaskan jika motif batik tersebut dibuat oleh para pembatik Tasik.
Rereng, nama yang sudah beberapa kali saya dengar meski motifnya baru pertama kali ini saya lihat. Corak batik Rereng sekilas memang mirip dengan motif Parang dari Yogya atau Solo.
Ihwal kemiripan antara motif batik Rereng dengan motif Parang dari tanah Jawa disebabkan karena adanya pengaruh yang kuat dari Batik Jawa seperti Solo atau Yogya terhadap perkembangan batik Tasikmalaya.
Motif Parang atau Lereng kemudian diadaptasi dengan nama Rereng dalam Bahasa Sunda. Motif ini banyak dibuat dengan berbagai variasi oleh para pembatik Tasik, misalnya Rereng Surutu, Rereng Orlet, Rereng Janggot, Rereng Impala, Rereng Sintung atau juga Rereng Pelangi seperti motif batik yang saya beli dari online shop tersebut.
Walaupun motif-motif batik Tasik tidak disakralkan atau dihubungkan secara religius, tetapi ada beberapa motif yang dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat membawa keberuntungan seperti motif Pisang Bali yang dibuat untuk orang yang berjualan dan diyakini dapat membawa keberuntungan.
Makna simbolis pada batik Tasik hanya terbatas pada motif klasik dan motif yang mendapat pengaruh dari Yogya dan Solo, namun pemberian makna simbolik pada motif batik Tasik saat ini sudah tidak dilakukan lagi.
Selain pengaruh dari batik Yogya dan Solo, motif batik Tasikmalaya juga dipengaruhi oleh batik Pekalongan. Pengaruh ini muncul pada corak flora dan fauna yang digambarkan secara naturalis dan berwarna cerah.
Batik Tasikmalaya memiliki motif dan warna yang khas, namun kedekatan wilayah ini dengan Ciamis dan Garut membuat unsur saling mempengaruhi, khususnya dalam motif, tak terelakkan. Seperti halnya batik Tasikmalaya, batik Garut dan Ciamis pun tak lepas dari pengaruh daerah lain diantaranya dari Yogya dan Solo.
Kendati mendapat pengaruh dari batik Jawa baik Yogya atau Solo, corak batik Sunda tetap memiliki kekhasan tersendiri. Warna batik Sunda umumnya lebih cerah dan berwarna dibandingkan batik-batik produksi Jawa. Batik Tasikmalaya, misalnya, menggunakan beragam warna seperti merah, biru kehijauan, kuning, ungu, orange, dan hitam. Warna-warna ini banyak dipakai oleh para pembatik Tasik di Cipedes dan Sukaraja, dua sentra batik di Kota Tasikmalaya. Sedangkan sentra batik Sukapura yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya cenderung didominasi oleh warna merah marun, biru indigo, dan hitam.
Jika dilihat dari corak warnanya, besar kemungkinan kain batik Tasik pertama saya ini berasal dari Kota Tasikmalaya. Sesuai dengan nama motifnya, Rereng Pelangi, kain batik tulis ini memiliki beragam warna cerah tak ubahnya pelangi. Juga cantik, seperti pelangi.
Kalau dalam batik Jawa, motif Parang dipandang ‘ora ilok’ untuk dipakai dalam sebuah acara pernikahan karena dipercaya bisa membawa ketidakcocokan dalam perkawinan orang yang punya gawe tersebut nantinya. Meski tak lagi menggunakan pemberian makna simbolik, namun karena motif Rereng merupakan adaptasi dari motif Parang membuat saya masih mikir-mikir juga untuk memakai kain batik Rereng Pelangi ini ke acara kondangan J
Sumber: Buku Saku Batik Jawa Barat Jilid II, Yayasan Batik Jawa Barat

Tuesday, April 19, 2011

Melongok Sentra Batik Kauman

Tak hanya Kampung Batik Laweyan, Solo juga memiliki Kampung Batik Kauman sebagai salah satu sentra kerajinan batik.
Kawasan ini terletak di pusat kota Solo, sehingga mudah dijangkau dengan moda transportasi apa saja. Letaknya juga berdekatan dengan Pasar Klewer, Keraton Kasunanan Surakarta maupun Masjid Agung.


Salah satu gang masuk Kampung Batik Kauman

Konsep dan suasana berbelanja batik di Kampung Batik Kauman tak berbeda jauh dari Kampung Batik Laweyan. Rumah-rumah di kawasan ini berfungsi sebagai tempat produksi sekaligus tempat penjualan batik. Beragam nama merk dagang terpampang di tiap rumah pengrajin batik.
Sesuai dengan namanya sebagai kampung batik, kawasan ini tak hanya menyuguhkan segala sesuatu yang menyangkut batik mulai dari proses pembuatan batik hingga produk jadi, tapi jika jeli, kita juga bisa melihat beberapa benda atau bangunan bermotif batik seperti tong sampah dan gapura. Sayangnya saya tak sempat memotret sebuah gapura batik yang saya lihat saat akan keluar Kauman dan menuju Pasar Klewer.
Sama halnya dengan Kampung Batik Laweyan, di kawasan ini kita bisa menemukan lorong-lorong jalan dan gang. Hanya saja, jika gang-gang di Laweyan masih bisa dilalui dua mobil dari arah berlawanan, di Kampung Batik Kauman hal ini cukup sulit dilakukan karena kondisi jalanan yang lebih sempit. Gang-gang di Kauman memang tak seluas di Laweyan.
Namun toh blusukan mencari batik di Kampung Batik Kauman paling asyik dilakukan dengan berjalan kaki, atau jika tak ingin capek bisa menggunakan becak yang banyak ditemui di sekitar kawasan. Papan penunjuk jalan juga mudah ditemui di sana, sehingga tak perlu khawatir akan tersesat meski baru pertama kali datang berkunjung.
Menurut sejarahnya, Kampung Kauman adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal kaum ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat. Mulai dari Tafsir Anom, ketip, modin, suronoto, dan kaum sebagai penduduk mayoritas. Dalam perkembangannya, kawasan ini kemudian dinamakan ‘kaum’ yang berarti Kampung Ulama. Cerita lain menyebutkan jika nama Kauman diambil dari kata ‘kaum’ yang merupakan penduduk mayoritas di kawasan tersebut.
Batik di kawasan ini diperkenalkan langsung oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masyarakat Kauman mendapatkan latihan secara khusus untuk membuat jarit atau karya batik lainnya dari keraton. Berbekal keahlian dalam membatik ini, beragam karya batik kini dapat ditemui di Kauman.
Kondisi pasang surut juga sempat dialami Kampung Batik Kauman. Misalnya pada tahun 1970-an, saat masuknya industri batik printing dengan harga lebih murah dan waktu pembuatan yang lebih cepat. Kampung Batik Kauman kembali menggeliat bangkit di tahun 2000-an, dan bertahan hingga saat ini.
Berjalan-jalan di Kampung Batik Kauman mengingatkan saya saat menyusuri Kampung Batik Laweyan. Banyak kemiripan yang dimiliki kedua kampung batik ini. Meski demikian, jika dicermati ada perbedaan yang cukup terlihat dari batik produksi Kampung Batik Laweyan dan Kauman. Batik Laweyan memiliki warna yang lebih terang,  sedangkan batik Kauman berwarna cenderung lebih gelap.
Mengutip informasi dari seorang teman yang sudah beberapa kali berkunjung ke kampung batik ini, karena letaknya yang berdekatan dengan Masjid Agung, Kampung Batik Kauman memberikan suasana yang cukup relijius dibandingkan Laweyan. Selain batik, beberapa toko juga ada yang menjual benda-benda bernuansa Islami seperti sajadah, tasbih maupun hiasan dinding berlafazkan Islam.
Nah, apabila Anda ingin berkunjung ke Kampung Batik Kauman maupun Laweyan, sebaiknya jangan pada saat weekend agar bisa lebih leluasa berjalan-jalan dan berbelanja. Tips yang lain, jangan lupa membawa payung jika Anda tidak ingin kepanasan saat berjalan-jalan menyusuri lorong jalan di kedua kampung batik tersebut.

Friday, April 15, 2011

Menengok Batik di Kampung Batik Laweyan

Bengawan Solo, riwayatmu kini…
Sedari dulu jadi perhatian insani…
Mendengar sepenggal lagu Bengawan Solo ciptaan seniman Gesang dalam sebuah acara di televisi seakan membawa pikiran saya hinggap di sebuah kota bernama Solo, Sala atau sering disebut juga dengan Surakarta.
Seperti halnya Yogyakarta, Solo merupakan pusat kebudayaan Jawa. Budaya Jawa masih sangat kental terasa di kota yang memiliki slogan The Spirit of Java ini. Tak sulit menemukan nama jalan, gedung, sekolah, atau pasar yang masih menggunakan aksara Jawa honocoroko. Sepasang topeng dari tokoh pewayangan juga terlihat menghiasi beberapa sudut kota.  
Sepasang topeng pewayangan di salah satu sudut kota
Aksara Jawa di salah satu bagian Pasar Klewer
Satu bagian dari budaya Jawa yang tak terpisahkan dari Solo adalah batik.
Batik merupakan tradisi yang diwariskan secara turun temurun di kota yang sering diidentikkan dengan perempuan Jawa nan ayu dan lemah lembut ini. Sebuah patung perempuan yang tengah membatik di Jl. Slamet Riyadi seolah menegaskan jika batik telah menjadi identitas kota Solo. Tak ketinggalan, Solo Batik Carnival, yaitu event karnaval batik yang digelar di jalan-jalan utama Kota Solo dengan ratusan peserta berbusana batik, rutin diadakan setiap tahunnya.
Dari sekian sentral batik yang ada di Solo, salah satunya yang tersohor adalah Kampung Batik Laweyan.

Awal April ini, dipandu seorang teman, saya berkesempatan untuk menelusuri lorong-lorong jalan di kawasan yang juga menjadi ikon Batik Solo ini.

Kampung Batik Laweyan terletak tak jauh dari pusat kota, hanya sekitar 10 menit dari stasiun Purwosari atau sekitar 5 km dari Keraton Solo. Memasuki kampung batik ini, kita dapat melihat sebuah peta besar terpampang berisikan sejarah asal mula berdirinya Laweyan. Sejarah Laweyan ini juga diceritakan dalam novel Canting karya Arswendo Atmowiloto.

Sejarah dan peta Laweyan
Berasal dari kata ‘lawe’ yang berarti benang dari pilinan kapas, Laweyan mulai tumbuh sebagai pusat perdagangan Kerajaan Pajang pada tahun 1500-an, dengan sandang sebagai komoditas utama. Batik di Laweyan sendiri awalnya dikenalkan oleh Ki Ageng Henis, disamping mengajarkan ilmu agama.
Laweyan sempat mengalami kondisi pasang surut. Setelah mengalami penurunan seiring dengan perkembangan Solo sebagai pusat kerajaan, Laweyan kembali mencapai kejayaannya pada abad 20 ketika industri batik tumbuh pesat. Kondisi ini kemudian melahirkan banyak saudagar batik yang kekayaannya bahkan melampaui kaum bangsawan keraton. Dimasa jayanya, para saudagar batik ini tidak hanya mapan secara ekonomi namun juga memiliki kekuatan secara politis. Dari kawasan inilah Syarikat Dagang Islam dahulu dideklarasikan.
Industri batik di wilayah ini kembali surut oleh industri batik printing pada awal tahun 1970-an. Kondisi ini masih bertahan hingga tahun 1900-an. Tak ingin Laweyan hilang tergerus perkembangan zaman, atas prakarsa sejumlah masyarakat kawasan ini kemudian diresmikan sebagai Kampung Batik dan salah satu tujuan wisata di kota Solo oleh pemerintah pada 25 September 2004.
Sebuah gang di satu sudut Kampung Batik Laweyan
Kawasan sentra industri batik ini menyuguhkan konsep dan suasana berbelanja batik yang berbeda. Batik diproduksi sekaligus dipajang di rumah masing-masing pengrajin batik yang sebagian telah dibentuk menyerupai outlet atau butik, lengkap dengan etalase untuk memajang produk batiknya. Tak mengherankan, banyak plang papan nama dengan beragam merek dagang batik terlihat di tiap lorong jalan Laweyan.

Lorong jalan Laweyan



Rumah-rumah batik Laweyan 

Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan rumah para saudagar batik tempo doeloe. Rumah-rumah dibangun dalam ukuran yang besar dengan arsitektur campuran antara tradisional Jawa, Eropa, Cina, dan Islam. Setiap rumah juga dilengkapi dengan pagar tinggi atau dalam bahasa Jawa sering disebut juga dengan ‘beteng’, yang menyebabkan jalan-jalan di Laweyan menjadi sempit.
Tapi inilah keunikannya. Meski masih bisa dilalui mobil, namun menelusuri Kampung Batik Laweyan paling menarik dilakukan dengan berjalan kaki. Berjalan menyusuri lorong-lorong jalan di Kampung Batik Laweyan sembari melihat-lihat beragam produksi batik di antara outlet rumah batik di sisi kanan maupun kiri jalan sungguh mengasyikkan. Baju-baju batik berwarna terang dan eye catching dipajang dengan tampilan yang menarik untuk memikat perhatian pembeli.
Jadi, jika Anda tertarik untuk berwisata ke Solo, Kampung Batik Laweyan bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata. Tak hanya sekedar berbelanja batik namun juga bisa melihat proses pembuatan batik atau sebaliknya, berbelanja sekaligus mengetahui proses pembuatan batik. Terserah Anda :).

Sunday, April 10, 2011

Warna-warni Batik Madura

Minggu lalu, saat pulang ke rumah saya mendapatkan oleh-oleh berupa 2 kain batik Madura, dari Ibu saya yang baru saja berwisata ke sana. Warnanya yang terang dan bermotif cenderung ramai justru membuat saya langsung jatuh hati saat pertama kali melihat kain batik ini.

Pulau Madura memang tidak hanya identik dengan karapan sapi, garam, jamu, maupun sate semata, tetapi juga tersohor sebagai salah satu daerah penghasil batik. Batik yang dihasilkan dari wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, khususnya dalam ragam motif dan corak warna.




Batik Madura umumnya memiliki warna-warna yang cenderung berani seperti merah, hijau, kuning, atau biru. Corak warna ini diperoleh dengan menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan sehingga warna yang dihasilkan cukup mencolok, namun inilah yang membuat kain batik Madura semakin menarik untuk dilihat. Bahan alami yang digunakan dalam proses pewarnaan batik Madura diambil dari tumbuh-tumbuhan, diantaranya kayu jambal, kulit buah jelawe ataupun akar mengkudu.

Pengerjaan kain batik Madura pun masih mempertahankan cara-cara tradisional. Kain-kain batik dibuat melalui proses pembatikan dengan tangan, mulai dari tahap perendaman kain mori dalam air bercampur minyak dempel dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku, dilanjutkan dengan pencucian, pengkajian, penggambaran pola pada kain, pemakaian malam, pewarnaan, pelorotan (atau dilorot, yaitu untuk menghilangkan malam pada kain batik dengan memasukkan kain ke dalam air mendidih), hingga proses penyikatan dan penjemuran kain.  

Selain corak warna yang berani, batik Madura juga memiliki motif yang beragam. Ada motif pucuk tombak, belah ketupat, flora dan fauna, ataupun motif klasik seperti cacerna, sisik Malaya, sisik amparan, dan sekoh. Setiap motif memiliki ceritanya masing-masing. Misalnya, batik tar poteh yang berlatar putih mengandung makna sebagai kesucian seorang perempuan.

Motif maupun warna yang tertuang dalam kain batik Madura, menurut sebuah sumber di internet, sejatinya merupakan refleksi dari karakter masyarakatnya. Batik, telah menjadi sebuah ikon budaya dan bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Madura.

Sentra batik Madura sendiri tersebar dari Bangkalan di ujung barat Madura, Pamekasan hingga Sumenep. Namun, jika membicarakan tentang batik Madura, ada satu daerah yang seakan identik dengan batik Madura yaitu Tanjung Bumi yang terletak di Bangkalan Utara. Wilayah ini merupakan penghasil batik Gentongan, yang khas dengan keistimewaan warnanya.

Jika suatu hari nanti Anda berkesempatan datang berkunjung ke sana, jangan lupa menambahkan ‘membeli batik Madura’ dalam daftar things to do Anda, selain menonton karapan sapi tentunya :).

Tuesday, March 15, 2011

Motif Batik dalam Pernikahan

Setiap motif batik klasik selalu memiliki filosofi, nilai dan makna tersendiri. Beberapa motif bahkan ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan atau peristiwa tertentu, seperti dalam adat dan budaya Jawa. Batik yang dipakai untuk upacara pernikahan tentunya tidak sama dengan batik yang digunakan saat menghadiri acara lelayu (dalam bahasa Jawa kata ini berarti kematian).

Batik yang digunakan dalam acara pernikahan pun berbeda-beda. Kain yang dipakai oleh orang tua pengantin dengan pengantinnya sendiri tidak sama, apalagi dengan para tamu undangannya :). Motif batik yang dipakai orang tua pengantin saat acara pernikahan juga berbeda dengan kain yang dipakai saat upacara siraman.

Kedengarannya terkesan ribet ya, untuk satu acara saja seseorang bisa membutuhkan beberapa jenis kain batik dengan motif yang berbeda. Hal ini tak lepas karena setiap corak batik memiliki perlambangan masing-masing, yang akan menentukan pemakaian atau penggunaannya.

Seperti motif parang. Motif jenis ini sangat jarang digunakan untuk menghadiri acara pernikahan, apalagi dipakai sebagai busana pengantin. Berarti sebagai benda tajam, dalam tradisi Jawa penggunaan motif parang saat acara pernikahan dipercaya dapat menimbulkan perang dalam rumah tangga atau menyebabkan rumah tangga yang dibangun si pengantin kelak akan dipenuhi oleh pertengkaran.

Untunglah, saya belum pernah memakai motif ini untuk datang ke sebuah acara pernikahan, bisa-bisa saya dikira ingin mendoakan yang tidak-tidak buat si pengantin :D.

Nah, lalu motif apa sih yang biasanya dipakai dalam acara pernikahan adat Jawa?

Ada beberapa pilihan kain yang dapat digunakan oleh pengantin saat hari pernikahannya, antara lain:

§   Motif Sido-Mukti, atau dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang). 


Berasal dari kata sido yang berarti terus menerus serta mukti yang berarti hidup berkecukupan dan bahagia, motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik dan penuh kebahagiaan untuk kedua mempelai. Karena artinya ini, motif sidomukti termasuk motif yang paling popular digunakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara pernikahan (hasil wawancara saya dengan beberapa perias pengantin adat Jawa saat pernikahan sepupu-sepupu saya :p).

§   Motif Sido Asih, yang bermakna hidup dalam kasih sayang.

§   Motif Sido Mulyo, yang berarti hidup dalam kemuliaan. Motif ini beberapa kali saya lihat juga digunakan sebagai bahan untuk kemeja pria, ditawarkan oleh beberapa online shop batik di facebook :).


§   Motif Sido Luhur yang memiliki arti selalu berbudi luhur dalam kehidupan.


Adapun untuk orang tua pengantin, beberapa pilihan batik yang dapat digunakan saat acara pernikahan antara lain Sido Drajat, Sido Wirasat dan motif Truntum. Kesemuanya melambangkan arti yang hampir sama, bahwa orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumah tangga.

Dibalik wujud selembar kain batik ternyata terkandung sebuah makna dan filosofi yang begitu tinggi, sehingga tak semua motif batik bisa digunakan setiap saat.

Tak heran, beberapa kali saya mendengar kata ‘ora ilok’, atau dalam bahasa Indonesia dapat juga diartikan dengan kata ‘tidak pantas’, terkait dengan penggunaan kain batik. Entah dari simbah penjual batik di Bringharjo saat saya mengantar teman yang ingin membeli batik motif Sidomukti untuk dibuat baju kondangan (ya iyalah :p), dari Ibu-ibu yang merias pernikahan sepupu saya ataupun dari beberapa teman sendiri.

Dan kata ora ilok pasti akan saya dengar lagi jika saya memakai motif batik parang untuk datang ke sebuah acara pernikahan :p.

Monday, March 14, 2011

Kisah CLBK di Balik Batik Truntum

Berawal setelah membaca email seorang teman yang menulis ‘ora ilok’ kalau memberikan batik motif truntum bagi suaminya, penasaran, saya coba browsing tentang motif batik yang memiliki kekhasan berupa bentuk bintang yang saling berhubungan ini.


Menurut cerita, motif truntum dulunya diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III). Bermakna cinta yang tumbuh kembali, Kanjeng Ratu Kencana menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus, tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin subur serta berkembang (tumaruntum).

Karena itulah motif ini seringkali dipakai oleh orang tua pengantin pada upacara pernikahan adat Jawa. Penggunaan kain jarit motif truntum oleh orang tua pengantin memiliki harapan agar cinta kasih yang tumaruntum akan senantiasa menghinggapi kedua mempelai. Pemakaian kain truntum oleh orang tua pada pernikahan putra/putrinya dapat juga diartikan dengan makna untuk menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu hidup berumah tangga.

Selain nilai dan makna motif truntum di atas, versi lain menyebutkan jika motif truntum bisa juga dibilang sebagai simbol dari sebuah cinta yang bersemi kembali. Konon, bentuk bintang-bintang yang menjadi kekhasan motif batik truntum dulunya diciptakan Kanjeng Ratu Kencana saat hatinya sedang bersedih karena merasa tak lagi diperhatikan oleh sang Raja, suaminya.

Di tengah kesendiriannya sang Ratu sering melihat banyak bintang gemerlap di langit saat tengah malam, menemani dirinya yang kesepian. Insipirasi itu kemudian ia tuangkan ke dalam motif batik. Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu dan memantau perkembangan pembatikan sang Ratu. Lambat laun, kasih sayang Raja terhadap Ratu mulai tumbuh kembali atau kalau dalam bahasa jaman sekarangnya bisa dikatakan sebagai CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) :D.

Oleh karena itu, motif ini disebut truntum, atau menurut versi lain diambil dari kata tuntum, yang memiliki arti bersatu menjadi satu kesatuan.

Saat sedang browsing tadi, tidak sengaja saya menemukan sebuah kalimat tentang batik trumtum yang sarat makna:

Motif batik Truntum sesungguhnya mengingatkan seorang pria untuk kembali kepada kesetiaan.

Hmm.. Mungkin karena itu teman saya bilang ‘ora ilok’ jika memberikan motif batik truntum bagi suaminya :).