Tuesday, March 15, 2011

Motif Batik dalam Pernikahan

Setiap motif batik klasik selalu memiliki filosofi, nilai dan makna tersendiri. Beberapa motif bahkan ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan atau peristiwa tertentu, seperti dalam adat dan budaya Jawa. Batik yang dipakai untuk upacara pernikahan tentunya tidak sama dengan batik yang digunakan saat menghadiri acara lelayu (dalam bahasa Jawa kata ini berarti kematian).

Batik yang digunakan dalam acara pernikahan pun berbeda-beda. Kain yang dipakai oleh orang tua pengantin dengan pengantinnya sendiri tidak sama, apalagi dengan para tamu undangannya :). Motif batik yang dipakai orang tua pengantin saat acara pernikahan juga berbeda dengan kain yang dipakai saat upacara siraman.

Kedengarannya terkesan ribet ya, untuk satu acara saja seseorang bisa membutuhkan beberapa jenis kain batik dengan motif yang berbeda. Hal ini tak lepas karena setiap corak batik memiliki perlambangan masing-masing, yang akan menentukan pemakaian atau penggunaannya.

Seperti motif parang. Motif jenis ini sangat jarang digunakan untuk menghadiri acara pernikahan, apalagi dipakai sebagai busana pengantin. Berarti sebagai benda tajam, dalam tradisi Jawa penggunaan motif parang saat acara pernikahan dipercaya dapat menimbulkan perang dalam rumah tangga atau menyebabkan rumah tangga yang dibangun si pengantin kelak akan dipenuhi oleh pertengkaran.

Untunglah, saya belum pernah memakai motif ini untuk datang ke sebuah acara pernikahan, bisa-bisa saya dikira ingin mendoakan yang tidak-tidak buat si pengantin :D.

Nah, lalu motif apa sih yang biasanya dipakai dalam acara pernikahan adat Jawa?

Ada beberapa pilihan kain yang dapat digunakan oleh pengantin saat hari pernikahannya, antara lain:

§   Motif Sido-Mukti, atau dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang). 


Berasal dari kata sido yang berarti terus menerus serta mukti yang berarti hidup berkecukupan dan bahagia, motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik dan penuh kebahagiaan untuk kedua mempelai. Karena artinya ini, motif sidomukti termasuk motif yang paling popular digunakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara pernikahan (hasil wawancara saya dengan beberapa perias pengantin adat Jawa saat pernikahan sepupu-sepupu saya :p).

§   Motif Sido Asih, yang bermakna hidup dalam kasih sayang.

§   Motif Sido Mulyo, yang berarti hidup dalam kemuliaan. Motif ini beberapa kali saya lihat juga digunakan sebagai bahan untuk kemeja pria, ditawarkan oleh beberapa online shop batik di facebook :).


§   Motif Sido Luhur yang memiliki arti selalu berbudi luhur dalam kehidupan.


Adapun untuk orang tua pengantin, beberapa pilihan batik yang dapat digunakan saat acara pernikahan antara lain Sido Drajat, Sido Wirasat dan motif Truntum. Kesemuanya melambangkan arti yang hampir sama, bahwa orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumah tangga.

Dibalik wujud selembar kain batik ternyata terkandung sebuah makna dan filosofi yang begitu tinggi, sehingga tak semua motif batik bisa digunakan setiap saat.

Tak heran, beberapa kali saya mendengar kata ‘ora ilok’, atau dalam bahasa Indonesia dapat juga diartikan dengan kata ‘tidak pantas’, terkait dengan penggunaan kain batik. Entah dari simbah penjual batik di Bringharjo saat saya mengantar teman yang ingin membeli batik motif Sidomukti untuk dibuat baju kondangan (ya iyalah :p), dari Ibu-ibu yang merias pernikahan sepupu saya ataupun dari beberapa teman sendiri.

Dan kata ora ilok pasti akan saya dengar lagi jika saya memakai motif batik parang untuk datang ke sebuah acara pernikahan :p.

Monday, March 14, 2011

Kisah CLBK di Balik Batik Truntum

Berawal setelah membaca email seorang teman yang menulis ‘ora ilok’ kalau memberikan batik motif truntum bagi suaminya, penasaran, saya coba browsing tentang motif batik yang memiliki kekhasan berupa bentuk bintang yang saling berhubungan ini.


Menurut cerita, motif truntum dulunya diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III). Bermakna cinta yang tumbuh kembali, Kanjeng Ratu Kencana menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus, tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin subur serta berkembang (tumaruntum).

Karena itulah motif ini seringkali dipakai oleh orang tua pengantin pada upacara pernikahan adat Jawa. Penggunaan kain jarit motif truntum oleh orang tua pengantin memiliki harapan agar cinta kasih yang tumaruntum akan senantiasa menghinggapi kedua mempelai. Pemakaian kain truntum oleh orang tua pada pernikahan putra/putrinya dapat juga diartikan dengan makna untuk menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu hidup berumah tangga.

Selain nilai dan makna motif truntum di atas, versi lain menyebutkan jika motif truntum bisa juga dibilang sebagai simbol dari sebuah cinta yang bersemi kembali. Konon, bentuk bintang-bintang yang menjadi kekhasan motif batik truntum dulunya diciptakan Kanjeng Ratu Kencana saat hatinya sedang bersedih karena merasa tak lagi diperhatikan oleh sang Raja, suaminya.

Di tengah kesendiriannya sang Ratu sering melihat banyak bintang gemerlap di langit saat tengah malam, menemani dirinya yang kesepian. Insipirasi itu kemudian ia tuangkan ke dalam motif batik. Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu dan memantau perkembangan pembatikan sang Ratu. Lambat laun, kasih sayang Raja terhadap Ratu mulai tumbuh kembali atau kalau dalam bahasa jaman sekarangnya bisa dikatakan sebagai CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) :D.

Oleh karena itu, motif ini disebut truntum, atau menurut versi lain diambil dari kata tuntum, yang memiliki arti bersatu menjadi satu kesatuan.

Saat sedang browsing tadi, tidak sengaja saya menemukan sebuah kalimat tentang batik trumtum yang sarat makna:

Motif batik Truntum sesungguhnya mengingatkan seorang pria untuk kembali kepada kesetiaan.

Hmm.. Mungkin karena itu teman saya bilang ‘ora ilok’ jika memberikan motif batik truntum bagi suaminya :).