Tuesday, April 19, 2011

Melongok Sentra Batik Kauman

Tak hanya Kampung Batik Laweyan, Solo juga memiliki Kampung Batik Kauman sebagai salah satu sentra kerajinan batik.
Kawasan ini terletak di pusat kota Solo, sehingga mudah dijangkau dengan moda transportasi apa saja. Letaknya juga berdekatan dengan Pasar Klewer, Keraton Kasunanan Surakarta maupun Masjid Agung.


Salah satu gang masuk Kampung Batik Kauman

Konsep dan suasana berbelanja batik di Kampung Batik Kauman tak berbeda jauh dari Kampung Batik Laweyan. Rumah-rumah di kawasan ini berfungsi sebagai tempat produksi sekaligus tempat penjualan batik. Beragam nama merk dagang terpampang di tiap rumah pengrajin batik.
Sesuai dengan namanya sebagai kampung batik, kawasan ini tak hanya menyuguhkan segala sesuatu yang menyangkut batik mulai dari proses pembuatan batik hingga produk jadi, tapi jika jeli, kita juga bisa melihat beberapa benda atau bangunan bermotif batik seperti tong sampah dan gapura. Sayangnya saya tak sempat memotret sebuah gapura batik yang saya lihat saat akan keluar Kauman dan menuju Pasar Klewer.
Sama halnya dengan Kampung Batik Laweyan, di kawasan ini kita bisa menemukan lorong-lorong jalan dan gang. Hanya saja, jika gang-gang di Laweyan masih bisa dilalui dua mobil dari arah berlawanan, di Kampung Batik Kauman hal ini cukup sulit dilakukan karena kondisi jalanan yang lebih sempit. Gang-gang di Kauman memang tak seluas di Laweyan.
Namun toh blusukan mencari batik di Kampung Batik Kauman paling asyik dilakukan dengan berjalan kaki, atau jika tak ingin capek bisa menggunakan becak yang banyak ditemui di sekitar kawasan. Papan penunjuk jalan juga mudah ditemui di sana, sehingga tak perlu khawatir akan tersesat meski baru pertama kali datang berkunjung.
Menurut sejarahnya, Kampung Kauman adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal kaum ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat. Mulai dari Tafsir Anom, ketip, modin, suronoto, dan kaum sebagai penduduk mayoritas. Dalam perkembangannya, kawasan ini kemudian dinamakan ‘kaum’ yang berarti Kampung Ulama. Cerita lain menyebutkan jika nama Kauman diambil dari kata ‘kaum’ yang merupakan penduduk mayoritas di kawasan tersebut.
Batik di kawasan ini diperkenalkan langsung oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masyarakat Kauman mendapatkan latihan secara khusus untuk membuat jarit atau karya batik lainnya dari keraton. Berbekal keahlian dalam membatik ini, beragam karya batik kini dapat ditemui di Kauman.
Kondisi pasang surut juga sempat dialami Kampung Batik Kauman. Misalnya pada tahun 1970-an, saat masuknya industri batik printing dengan harga lebih murah dan waktu pembuatan yang lebih cepat. Kampung Batik Kauman kembali menggeliat bangkit di tahun 2000-an, dan bertahan hingga saat ini.
Berjalan-jalan di Kampung Batik Kauman mengingatkan saya saat menyusuri Kampung Batik Laweyan. Banyak kemiripan yang dimiliki kedua kampung batik ini. Meski demikian, jika dicermati ada perbedaan yang cukup terlihat dari batik produksi Kampung Batik Laweyan dan Kauman. Batik Laweyan memiliki warna yang lebih terang,  sedangkan batik Kauman berwarna cenderung lebih gelap.
Mengutip informasi dari seorang teman yang sudah beberapa kali berkunjung ke kampung batik ini, karena letaknya yang berdekatan dengan Masjid Agung, Kampung Batik Kauman memberikan suasana yang cukup relijius dibandingkan Laweyan. Selain batik, beberapa toko juga ada yang menjual benda-benda bernuansa Islami seperti sajadah, tasbih maupun hiasan dinding berlafazkan Islam.
Nah, apabila Anda ingin berkunjung ke Kampung Batik Kauman maupun Laweyan, sebaiknya jangan pada saat weekend agar bisa lebih leluasa berjalan-jalan dan berbelanja. Tips yang lain, jangan lupa membawa payung jika Anda tidak ingin kepanasan saat berjalan-jalan menyusuri lorong jalan di kedua kampung batik tersebut.

No comments:

Post a Comment